Kamis, 06 Maret 2014

SUARA POLITIK SUARA DUIT


Tinggal menghitung hari, Negara kita tercinta akan mengadakan gelaran pesta demokrasi “katanya”. Pesta lima tahunan , merupakan  pesta rakyat Indonesia, mulai dari Sabang sampai Marauke, semuanya masyarakat mempunyai hak pilih untuk menentukan dan menggantungkan nasibnya (rakyat Indonesia) kepada para wakil yang duduk di DPRD maupun di DPR-RI.
Aroma politik begitu terasa mneyengat, berbagai artibut partai sudah mulai berjejalan dimana-mana, baik di Kota maupun di Desa. Tak mau kalah dengan partainya, para calon wakil kita (rakyat) “ktanya”? juga ikut memasang baleho yang bergambarkan dirinya. Mulai dari yang kecil sampai yang besar, semuanya membuat pemandangan yang tidak nyaman. Aroma persaingan yang kental, tidak hanya dikarenakan artibut partai ataupun baliho para caleg yang terpampang di berbagai sudut jalan. Baliho yang menggambarkan sosok-sosok yang mengaku akan membela rakyat kecil. Janji demi janji meraka tulis besar-besar dengan kata yang melanakan, raut wajah mereka di buat menjadi wajah sok bijaksana, sok alim, dan sok merakyat.
Semua meraka lakukan hanya berlomba untuk mencari simpati masyarakat. Berbagai cara mereka lakukan agar masyarakat mau memilih mereka (para caleg). Pasang iklan, pencitraan di media, pasang baliho, dan yang mengerikan dan itu menjadi sesuatu yang pasti ada dalam semua pemilu yang telah berlangsung yaitu bagi-bagi duit yang istilah kerennya yaitu money politic.
Ada beberapa faktor yang menjadikan politik duit berkembang dari peredarannya antara lain yaitu: di karenakan ketidak tahuan masyarakat tentang politik, ekonomi masyarakat yang lemah, pendidikan kurang memadai, dan yang sering di lakukan karena persaingan para calon yang maju dalam pemilu.
Pemilhan umum adalah suatu keharusan dalam alam demokrasi, karena dalam sistem demokrasi yang dianut adalah kekuasaan ditangan rakyat, meskipun pengalaman membuktikan bahwa rakyat yang punya kuasa justru sering dibuat tak berdaya oleh para penguasa yang notabene dulu di pilih oleh rakyat. (Ali Khoiron dosen Ma’had Aly Al-Falah, dalam Bulutin Alfalah, edisi 7).
Negara Indonesia adalah Negara demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Yang mana pemilik kekuasaan tertinggi adalah rakyat. Kekuasaan harus disadari berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Bahkan kekuasan hendaklah dilaksanakan bersama-sama dengan rakyat.
Demokrasi tidak boleh hanya di jadikan hiasan bibir dan bahan retorika belaka. Demokrasi juga bukan hanya menyangkut pelambangan gagasan-gagasan luhur tentang kehidupan bernegara yang ideal, melainkan juga merupakan persoalan tradisi dan budaya politik yang egaliter dalam realitas pergaulan hidup yang berkeragaman atau plural, dengan saling menghargai perbedaan satu sama lain. (Jimly Asshidiqie, dalam bukunya: konstitusi dan konstitusionalisme Indonesia, hal 70)
Ketika kita menemukan berbagai cara para calon yang bersaing dalam pemilu,dan  pilkada tidak terlepas dari demokrasi yang di anut oleh Negara republik Indonesia. demokrasi dalam masalah politik adalah aliran politik yang dibangun atas pondasi pemberian kesempatan pada rakyat untuk menyelenggarakan urusan politik dalam Negara, dimana putusan tertinggi ada di tangan rakyat dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Dengan kata lain, rakyatlah yang berhak membuat undang-undang untuk diri mereka dan lebih berhak untuk menghukum diri mereka sendiri. Sitem yang dianut kita adalah sitem yang baik hanya saja, pelaku sistem itu sendiri yang tidak baik. ( Rapung Samuddin, LC, MA dalam bukunya fiqih Demokrasi hl: 165).
Dalam masyarakat demokratis, pemilu merupakan suatu proses pergantian kekuasaan secara damai yang dilakukan secara berkala sesuai dengan prinsip-prinsip yang digariskan konstitusi. Dengna demikian dapatlah dipahami bahwa pemilu merupakan kegiatan politik yang sangat penting dalam proses penyelenggaraan  kekuasaan dalam sebuah Negara yang menganut prinsip-prinsip demokrasi. Prinsip kehidupan ketatanegaraan yang berkedaulatan rakyat (demokrasi) ditandai bahwa setiap warga Negara berhak ikut aktif dalam setiap  proses pengambilan keputusan kenegaraan.  (Dahlan Thaib, dalam bukunya Ketatanegaraan Indonesia, hal:98).
Negara Indonesia menghendaki bahwa pemilu tegak atas landasan persamaan. persamaan antara suara orang jahil dan alim, orang baik dan orang buruk dan lain sebagainya. Seluruh masyarakat setara dalam proses pemilu, hingga ilmu, ketakwaan, pengalaman dan pandangan kritis tidak memiliki pengaruh sedikitpun dalam proses pemilihan. Darisinilah mengapa maraknya politik duit yang kian mengerikan.
Politik bukanlah suatu yang kotor. Tapi ketika di sangkutkan dengan pemilu, pilkada ataupun pilpers yang menggunakan politik duit (uang) inilah yang baru dikatakan politik kotor.  Dalam konstitusi Negara pemilihan secara jujur, bersih, inilah yang di cita-citakan oleh sebuah Negara yang belandaskan demokrasi.  Begitupun apa yang di inginkan Negara Republik Indonesia yang menghedaki pemilu dengan jujur dan adil.
Kejujuran dan keadilan dalam pemilu hendaknya di junjung tinggi. Dengan landasan jurdil ini maka Negara akan mempunyai pemimpin yang layak dan berkompeten untuk memimpin dan mewakili rakyat. Dalam pemilu raya, tidak ubahnya seperti ladang untuk para kapitalis merauk suara banyak, karena merekalah yang mempunyai keinginan untuk menduduki sebuah Negara. Dari sini apakah kita akan rela menyerahkan kepemimpinan kepada kapitalis dan orang-orang yang akan menghancurkan Negara? Tentu kita tidak akan mau menyerahkannya bukan?.
Dari beberapa pemilihan secara langsung yang telah di laksanakan di berbagi plosok negeri, misalkan pilkada yang beberapa bulan lalu sudah digelar, telah banyak ditemukan politik duit (uang). Tak bisa di pungkiri bahwa masyarakat kita masih awam dengan politik, sehingga mereka mudah untuk di beli suaranya. Mereka tak memperdulikan pemimpin yang kelak memimpinya. Mereka memilih bukan karena reputasi calon, tetapi berapa uang yang diberikan, sehingga politik duit pun merajai dan mengeras bagaikan batu karang dilaut.
Ketika duit menjadikan pemimpin, maka tidak heran kalau kerjaan pemimpin sekarang hanaya mementingkan duit, bagaimana mendapatkan duit sebanyak-banyaknya, dan bagaimana mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan besrta dengan bunganya. Maka tidak mengherankan jika meja hijau, lembaga pemasyarakatan banyak dihuni oleh mantan-mantan wakil rakyat yang korupsi secara berjamaah. (Alis Asikin dosen IAIN Walisongo, dalam bulletin Al-Falah, edisi 2).
Ini merupakan fenomena yang terjadi di Negara kita, Negara Indonesia tercinta. Dari kasus-kasus yang menjerat para wakil rakyat yang telah kita pilih, apakah kita masih akan mementingkan duit yang tidak seberapa? Yang menyebabkan Negara kita terjangkit virus Korupsi. Korupsi yang merajalela sekarang adalah ulah kita sendiri, yang memilih wakil rakyat hanya dengan melihat duitnya, bukan melihat kemampuan dan kiprah wakil rakyat tersebut.
Apakah kita akan rela kalau 5 tahun kedepan Negara kita masih menjadi Negara terkorup, Negara tertinggal, Negara termiskin (padahal sumber daya alam kita melimpah), dan Negara terbelakang dalam pendidikan. Mungkinkah kita akan melestarikan budaya politik kotor, politik duit, dan politik kapitalis?, tentu kita tidak rela bukan, menjadikan Negara tercinta Indonesia sebagai Negara yang berkedaulatan duit. Maka dari pengalaman yang sudah-sudah hendaknya kita sebagai warga Negara tidak mudah untuk di suap, di sogok dan suara kita di jadikan barang dagangan. Mari kita berbaiki pemilu kali ini dengan jujur dan adil, dengan mengedepankan calo-calon yang kredibel dalam bidang politik kenegaraan, dan marilah kita memilih wakil-wakil kita tidak hanya karena paras yang di permak menjadi sok alim, sok bijaksana, dan sok merakyat. Kenalilah wakil rakyatmu sebelum memilih. Ingatlah 5 menit kita di TPS (tempat pemungutan suara) itu akan menentukan 5 tahun kedepan negara.
Mari kita tolak politik duit, kita abaikan para calon yang berpolitik duit. Karena korupsi dan hal-hal yang merugikan Negara awalnya adalah dari para calon yang menghambur-hamburkan duitnya untuk mewakili kita. Apakah kita mau menjadi penghuni neraka karena di suap?, mau menjadikan Negara kita Negara terkorup dan tertinggal?.

DAFTAR BACAAN
Ali Khoiron dosen Ma’had Aly Al-Falah, dalam Bulutin Alfalah, edisi 7
Alis Asikin dosen IAIN Walisongo, dalam bulletin Al-Falah, edisi 2
Dahlan Thaib, dalam bukunya Ketatanegaraan Indonesia
Jimly Asshidiqie, dalam bukunya: konstitusi dan konstitusionalisme Indonesia
Rapung Samuddin, LC, MA dalam bukunya fiqih Demokrasi

Jumat, 14 Februari 2014

Aku Ingin Menulis

Aku coba rangkai kata demi kata untuk memulainya
Mencoba untuk menuangkan semua rasa yang menyelinap di dada
Aku mencoba untuk membiasakan menulis
Aku ingin menulis
walaupun hanya satu kata
Aku ingin menulis
Biarpun hanya dua kata
Aku ingin menulis
Mencoba merangkai kata
Aku ingin menulis
hanya saja bagaimana caranya


Aku Ingin Menulis

Akhhir-akhir ini rasa ingin menulisku timbul, tapi tak tau dari mana aku harus memulainya, aku coba terus untuk bisa menggerakan jemari di atas kybord netbook ku. sudah beberapa buku panduan cara menulis aku baca. Tapi, tak kunjung membantu walaupun sedikit, seakan-akan ketika jemariku mencoba untuk menuliskan apa yang ada di benakku terkadang terasa begitu sulit. ya kesulitan bukan hanya di mana cara menyusun kata-kata yang baik tetapi juga bagaimana untuk merangkai kata itu supaya dapat di mengerti maksudnya oleh pembaca.
Dalam lamunan, aku sering berimajinasi sebagai penulis yang handal dan terampil. sekarang saatnya aku ingin menulis apa yang ada dalam benakku selama ini, karena aku ingin bisa menulis dan aku ingin menulis. Sekarangpun aku bingung lalu aku berhenti sebentar untuk merangkai kata ini, tak tau kenapa tiba-tiba ideku hilang dan tak muncul jua. Tapi aku yakin ketika kita terbiasa dengan sesuatu maka kita akan menjadi mahir dengna kebiasaan kita. Aku ambil contoh ketika aku berumur 9 tahun, aku ingin sekali bisa naik sepeda, pertama kali yang kurasakan ketika itu sepeda begitu sulit dan sangat sulit untuk dijalankan, aku tak menyerah dengan ketidak bisaanku naik sepeda, walaupun pada waktu itu aku tidak mempunyai sepeda tapi rasa ingin bisa itu menggebu, setiap hari aku pinjam sepeda, aku coba mengayuh, terus aku ulangi setiap hari dan setelah sekian lama akhirnya aku bisa naik sepeda juga.
Sekarang aku ingin menulis, kalau keinginan itu hanya sekedar rasa tapi tak pernah di coba langsung maka mustahil kalau aku bisa menjadi penulis, aku ingin belajar dari pengalamanku belajar sepada, sedikit demi sedikit pasti akhirnya aku bisa juga untuk mengomandoi jemariku dan imajinasiku secara bersama. Hal yang selama ini hanya menjadi bayangan semoga dengan di awali bismilah aku bisa, aku akan menjadi bisa amin ya rabbal alamin.

Sabtu, 04 Januari 2014

PROSPEK PERBANKAN SYARI’AH DI INDONESIA

A.    Latar Belakang
Perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan yang menjadi tulang punggung perekonomian suatu NegaraBank pertama kali berdiri pada awal abad ke 14 dikota dagang Venesia dan Genoa di Italia. Dari kedua kota itu kemudian sistem bank menjalar ke Eropa Barat, dan kemudian pada tahun 1696 di Inggris berdiri pula sebuah bank yang bernama Bank Of  England. Dalam sistem pengelolaannya bank terbagi menjadi dua yaitu bank konvensional dan bank Islam. Bank Islam pertama kali berdiri di Kairo pada tahun 1972 denagan nama Nasser social dan di Manila pada tahun 1973 dengan nama Al-Amanah Islamic Investmen Bank. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan bank Islam baru dimulai sejak didirikannya Islamic Development Bank (IBD), dan dewasa diperkirakan ini telah berdiri ratusan bank Islam dan lembaga keuangan Islam di seluruh dunia baik Negara-negara Islam maupun Negara non-Islam.
Berkembangnya bank-bank syari’ah di Negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode 1980-an, diskusi mengenai bank syari’ah sebagai pilar ekonomi Islam mulai dilakukan. Dari hasil diskusi yang diikuti Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), ulama dan pakar ekonomi Islam yang diselenggarakn oleh MUI menghasilakan beberapa rumusan tetang perbankan syari’ah dan dari pertemuan inilah muncul ide pendirian Bank Islam Indonesia.
Pada awal pendirian Bank Muamalat Indonesia, keberadaan bank syari’ah ini belum mendapat perhatian yang optimal dalam tatanan imdustri perbankan nasioanal. Tetapi setelah di sahkanya UU no 10/1998, perbankan syari’ah mengalami kemajuan yang begitu pesat.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang ini, pemakalah dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Kapan berdirinya bank syari’ah di Indonesia?
2.      Bagaimana prospek perbankan syari’ah di Indonesia?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Guna mengetahui berdirinya bank syari’ah di Indonesia
2.      Untuk mengetahui prospek perbankan syari’ah di Indonesia



D.    Pembahasan

1.      Sejarah berdirinya bank syari’ah di Indonesia
Indonesia yang sebagian besar penduduknya adalah muslim membuat Negara ini menjadi pasar terbesar di dunia bagi perbankan syari’ah. Besarnya populasi muslim iru memberikan ruang yang cukup lebar bagi perkembangan bank syari’ah di Indonesia.
Di Indonesia bank syari’ah pertama baru lahir tahun 1991 dan beroperasi secara resmi tahun 1992. Padahal pemikiran mengenai hal ini sudah terjadi sejak dasawarsa 1970-an. Pada awal periode 1980-an, diskusi mengenai bank syari’ah sebagai pilar ekonomi islam mulai dilakukan. Para tokoh yang terlibat dalam kajian tersebut adalah Karnaen A, M Dawam Rahardjo, A.M, Saefuddin,M, M Amin Aziz dan lain-lain. Menurut Dawam Raharjo saat memberikan kata pengantar buku Bank Islam analisa fiqh dan keuangan penghalangnya adalah faktor politik yaitu bahwa pendirian bank islam dianggap sebagai bagian dari cita-cita mendirikan Negara islam
Namun sejak 2000-an, setelah terbukti keunggulan bank syari’ah (bank islam) dibandingkan bank konvensional antara lain, bank muamalat tidak memerlukan suntikan dana, ketika bank konvensional menjerit minta Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) ratusan triliunan akibat negative spread bank-bank syari’ah pun bermunculan di Indonesia. Hingga akhir desember 2006, di Indonesia terdapat 3 Bank Umum Syari’ah (BUS) dan 20 Unit Usaha Syari’ah (UUS)
Menurut undang-undang Republik Indonesia nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syari’ah BAB I ketentuan umum pada pasal 1 menjelaskan bahwa perbankan syari’ah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syari’ah dan Unit Usaha Syari’ah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Sedangkan Bank syari’ah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syari’ah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syari’ah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah. Bank umum syari’ah adalah bank syari’ah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran sedangkan bank pembiayaan rakyat syari’ah adalah bank yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Ide pendirian Bank Syari’ah sudah di mulai sejak tahun 1937 oleh ketua pengurus besar Muhammadiyyah yaitu K.H Mas Mansur sampai pada akhirnya undang-undang no 7 tahun 1992 sehingga berdirinya Bank Muamalat dan undang-undang ini diubah menjadi undang-undang no 10 tahun 1998 atas dasar undang-undang ini bermunculah bank syari’ah di Indonesia
Landasan pendirian Bank Syari’ah terdapat dalam Q.S al-Baqarah ayat 275, para ulama Indonesia mendirikan bank bebas bunga karena Allah telah menjelaskan bahwa riba itu haram dan jual beli itu halal,. Selain itu Allah juga menjelaskan bahwa memakan harta sesama dengan jalan yang bathil itu juga dilarang seperti dalam Q.S an-Nisa’ : 29.
Fatwa DSN no.7/DSN-MUI/IV/2000 yang kemudian menjadi pedoman pada praktek perbankan syari’ah. Dalam nomor tersebut disebutkan “lembaga keuangan syari’ah sebagai penyedia dana, menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan dengan disengaja,lalai atau menyalahi perjanjian.
Fungsi-fungsi bank sudah dipraktikan oleh para sahabat di zaman Nabi SAW yakni menerima simpanan uang, memberikan pembiayaan dan jasa transfer uang. Namun satu orang hanya melakukan satu fungsi saja baru kemudian di zaman Bani Abbasiyah ketiga fungsi perbankan dilakukan oleh satu individu.
Usaha modern pertama untuk mendirikan bank tanpa bunga pertama kali di lakukan di Malaysia pada pertengahantahun 1940-an namun usaha tersebut tidak berhasil. Brikutnya eksperimen dilakukan di Pakistan pada akhir 1950-an. Namun eksperimen pendirian bank syari’ah yang paling sukses dan inovatif di masa modern dilakukan di Mesir pada tahun 1963 dengan berdirinya Mit Ghamr Local Saving Bank. Kesuksesan Mit Ghamr member inspirasi bagi umat muslim di seluruh dunia sehingga muncul kesadaran bahwa prinsip-prinsip islam ternyata masih dapat diaplikasi dalam bisnis modern.
Salah satu tonggak perkembangan perbankan islam adalah didirikannya Islamic Development Bank (IDB) atau bank pembangunan islam pada tahun 1975 yang berpusat di Jeddah. Bank pembangunan yang menyerupai Bank Dunia (world bank) dan Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank, ADB) ini dibentuk oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang anggota-anggotanya adalah Negara-negara islam termasuk Indonesia
Pada era 1970-an usaha-usaha untuk mendirikan bank islam sudah menyebar ke banyak Negara misalnya Dubai Islamic Bank (1975) dan Kuwait Finance House (1977) di timur tengah. Beberapa Negara seperti Pakistan, Iran dan Sudan bahkan mengubah seluruh sistem keuangan di Negara tersebut sehingga semua lembaga di Negara tersebut beroperasi tanpa menggunakan bunga.
Kini perbankan syari’ah sudah menyebar ke berbegai Negara bahkan Negara barat. The Islamic Bank International of Denmark tercatat sebagai bank syari’ah pertama di eropa tepatnya tahun 1983. Di Asia Tenggara tonggak perkembangan perbankan terjadi pada awal dasawarsa 1980-an dengan berdirinya Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) pada tahun 1983.
2.      Prospek Perbankan Syari’ah Di Indonesia
Tidak dapat dipungkiri bahwasanya mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, umat Islam yang ada di Indonesia sudah merindukan dan mendambakan bank Islam, bahkan sejak masa kebangkitan nasional yang pertama. Berdirinya bank Islam merupakan upaya strategis dalam Garis-garis program Kerja Majelis Ulama Indonessia tahun 1990-1995. Hal ini menunjukan besarnya harapan dan dukungan umat Islam yang diwakili oleh Majelis ulama Indonesia terhadap adanya bank Islam.
Dengan berlakunaya UU no 10/1998 tentang perubahan UU no 7/1992 tentang perbankan terdapat beberapa perubahan yang memberikan peluang yang lebih besar bagi pengembangan perbankan syari’ah. Tidak lama setelah di sahkannya UU no 10/1998, Bank Indonesia membentuk Komite Pengarah, Komite Ahli, dan Komite Kerja Pengembangan Perbankan Islam. Komite-komite inilah yang merumuskan Cetak Biru Pengembangan Perbankan Islam Indonesia sampai dengan tahun 2011 yang kemudian menjadi program kerja Direktorat perbankan Islam, Bnak Indonesia. Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank-bank konvensional untuk membuka cabang syari’ah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syari’ah.
Dalam bank Syri’ah (Islam) terdapat konsep yang sesuai dengan keutuhan masyarakat  saat ini dan saat yang akan datang, karena bank Islam mendorong kebersamaan antara nasabah dan bank dalam menghadapi risiko usaha. Dari sinilah kepercayaan masyarakat akan bank meningkat dan nasabah semakin tertarik menggunakan bank syari’ah. Dan dengan adanya fatwa MUI mengenai keharaman bunga bank, peningkatan nasabah perbankan sangat segnifikan.

   Dari beberapa indikasi yang ada maka rasanya tidak salah kalau prospek perbankan syari’ah di Indonesia sangatlah menjanjikan dan sangat baik meskipun kelak kita akan menghadapi era globalisasi. dengan pesatnya perkembangan perbankan Islam dengan kinerja yang sangat baik sekalipun di tengah krisis ekonomi, maka bisa di pastikan perbankan Islam akan tampil sebagai lembaga keuangan yang mendapat perhatian masyarakat luas.
E.     Kesimpulan
Dari pembahasan yang terdapat pada makalah ini dapat pemakalah simpulkan sebagai berikut:
1.      Sejarah berdirinya bank syari’ah merupakan kerinduan dari umat Islam yang ada di Indonesia, yang diwakili oleh Majelis Ulama Indonesia dalam hal ini ketika merumuskan dan merencanakan berdirinya bank yang berdasarkan sistem syari’ah atau non ribawi. Bank Muamalat Indonesia adalah bank syari’ah pertama yang didirikan di indonesisa tahun 1991 dan di oprasikan tahun 1992
2.      Tidak dapat dipungkiri bahwa bank syari’ah pada tahun-taun ini sangatlah pesat perkembangannya. Prospek pebankan syari’ah di Indonesia sngatlah menjanjikan dan terbuka lebar untuk menjadi bank yang menguasai ekonomi di Indonesia bahkan di dunia. Mengapa demikian karena sudah terujui ketika memasuki krisis yang terjadi pada tahun 1997.
 



Daftar Pustaka

Hamidi, M, Luthfi, 2003. “Jejak-jejak Ekonomi Syari’ah”. Jakarta: Senayan Abadi Publishing
Mustafa Edwin Nasution, 2006. “Pengenalan Eksklusif: Ekonomi Islam” Jakarta: Kencana
Lubis, Suharwadi K. 2000.“Hukum Ekonomi Islam”, Jakarta: Sinar Grafika
Rahmaadi Usman, 2012. “Aspek Hukum Perbankan Syari’ah di Indonesia”, Jakarta: Sinar Grafika
Syafi’i Antonio, Muhammad, 2001, Bank Syari’ah: dari teori ke praktik, Jakarta: Gema Insani


Wirdayaningsih, 2005. “Bank dan Asuransi Islam di Indonesia”. Jakarta : Kencana

PROSPEK EKONOMI SYARI’AH DI INDONESIA

PENGANTAR
A.    Latar Belakang
Aktivias ekonomi dapat dikatakan sama tuanya dengan sejarah manusaia itu sendiri. Ia telah ada semenjak diturunkannya nenek moyang manusia, Adam dan Hawa kepermukaan bumi. Perkembangan ekonomi berjalan seiring dengan perkembangan manusia dan pengetahuan teknologi yang dimiliki.
Sebagai muslim yakin bahwa al-Qur’an dan sunah talah mengatur jalan kehidupan ekonomi, dan untuk mewujudkan kehidupan ekonomi, sesungguhnya Allah telah menyediakan sumber daya-Nya dan mempersilakan manusisa untuk memanfaatkannya. Sebagaimana firman-NYa dalam surah al-Baqarah (2) ayat 29:
uqèd Ï%©!$# šYn=y{ Nä3s9 $¨B Îû ÇÚöF{$# $YèŠÏJy_ §NèO #uqtGó$# n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# £`ßg1§q|¡sù yìö7y ;Nºuq»yJy 4 uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇËÒÈ     
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.
Kenyataannya, kita dihadapkan pada sistem ekonomi konvensional yang jauh lebih kuat perkembangannya daripada sistem ekonomi Islam. Kita lebih paham dan terbiasa dengan tata cara ekonomi konvensional dengan segala kelebihan dan keburukannya. Sebagai muslim, dituntut untuk menerapkan keislamannya dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk aspek ekonomi.
Pada awal Juli tahun 1982, di Ujung pandang (Makasar) di selenggarakan suatu pertemuan untuk membicarakan sistem ekonomi Islam. Bisa juga diartikan bahwasanya ekonomi Islam masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an, yang di tandai dengan tersselenggaranya pertemuan yang di laksanakan di Makasar.

B.     Pokok Masalah
Dari uraian yang terdapat pada latar belakang masalah, dapat ditarik pokok masalah sebagai berikut
1.      Apa pengertian ekonomi Islam?
2.      Bagaimana sejarah perkembangan ekonomi Islam?
3.      Apa prinsip ekonomi Islam?
4.      Bagaimana prospek ekonomi Islam (Syari’ah) di Indonesia?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui pengertian ekonomi Islam
2.      Agar bisa mengetahui sejarah perkembangan ekonomi Islam
3.      Guna mengetahui prisnsip ekonomi Islam
4.      Supaya tahu prospek ekonomi Islam di Indonesia

D.    Pembahasan

1.      Pengertian ekonomi Islam
Dalam membahas prespektif ekonomi Islam, ada satu titik awal yang harus diperhatikan yaitu: “ekonomi dalam Islam itu sesungguhnya bermuara kepada aqidah Islam, yang bersumber dari syariatnya. Ini baru dari satu sisi. Sedangakan dari sisi lain ekonomi Islam bermuara pada al-Qur’an dan Hadis.[1]Oleh karena itu, berbagai terminologi dan substansi ekonomi yang sudah ada, haruslah dibentuk dan disesuaikan terlebih dahulu dalam kerangka Islami.
Beberapa ahli mendefinisikan ekonomi Islam sebagi suatu ilmu yang mempelajari prilaku manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dengan alat pemenuhan kebutuhan yang terbatas di dalam kerangka syari’ah Islam. Definisi lain merumuskan bahwa ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari prilaku seorang muslim dalam suatu masyarakat Islam yang dibingkai dengan syari’ah Islam. Syarat utama ekonomi Islam yaitu memasukan nilai-nilai Islam di dalamnya. Ekonomi Islam adalah ilmu sosisal yang tentu saja tidak bebas dari nilai-nilai moral.
2.      Sejarah perkembangan ekonomi Islam
Sepanjang sejarah umat muslim, kebebasan ekonomi sudah dijamin dengan berbagai tradisi masyarakat dan dengan sistem hukumnya. Nabi SAW, tidak bersedida menetapkan harga-harga walaupun pada saat harga-harga itu membumbung tinggi. Setelah masa nabi SAW, dan selama perjalanan sejarah Islam, umat muslim mempertahankan prinsip kebebasan yang senantiasa dilaksanakan.
Setelah perang dunia kedua, muncul gejala yang menarik di Negara-negara Islam atau Negara yang penduduknya mayoritas agama Islam, yaitu adanya kecendrungan untuk melihat potensi diri dengan me;ihat nilai-nilai Islam agar dapat dipergunakan untuk mengatur hidup dan kehidupan mereka dalam bermasyarakat dan bernegara.
Dalam rangka tersebut maka sejak awal tahun 1970-an kalangan cendikiawan Muslim berupaya menggali nilai-nilai Islam yang selama masa penjajahan Barat tertutup oleh nilai-nilai lain atau karena sebab tertentu tidak dapat dipergunakan. Pada tahun 1977 di London diadakan International Ekonomic Conference on the muslim World and the future Economic Order. Diantara pokok-pokok pembahasan yang dikaji adalah konsepsi Islam mengenai susunan ekonomi dunia.
Sedangkan di Indonesisa konsep ekonomi syariah lahir pada sekitar tahun 1980-an tapi mulai diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun 1991 ketika Bank Muamalat Indonesia berdiri, yang kemudian diikuti oleh lembaga-lembaga keuangan lainnya. Pada waktu itu sosialisasi ekonomi syariah dilakukan masing-masing lembaga keuangan syariah. Setelah di evaluasi bersama, disadari bahwa sosialisasi sistem ekonomi syariah hanya dapat berhasil apabila dilakukan dengan cara yang terstruktur dan berkelanjutan.
Menyadari hal tersebut, lembaga-lembaga keuangan syariah berkumpul dan mengajak seluruh kalangan yang berkepentingan untuk membentuk suatu organisasi, dengan usaha bersama akan melaksanakan program sosialisasi terstruktur dan berkesinambungan kepada masyarakat. Organisasi ini dinamakan “Perkumpulan Masyarakat Ekonomi Syariah” yang disingkat dengan MES, sebutan dalam bahasa Indonesia adalah Masyarakat Ekonomi Syariah, dalam bahasa Inggris adalah Islamic Economic Society atau dalam bahasa arabnya Mujtama’ al-Iqtishad al-Islamiy, didirikan pada hari Senin, tanggal 1 Muharram 1422 H, bertepatan pada tanggal 26 Maret 2001 M. Di deklarasikan pada hari Selasa, tanggal 2 Muharram 1422 H di Jakarta.
Pendiri MES adalah Perorangan, lembaga keuangan, lembaga pendidikan, lembaga kajian dan badan usaha yang tertarik untuk mengembangkan ekonomi syariah. MES berasaskan Syariah Islam, serta tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Republik Indonesia, sehingga terbuka bagi setiap warga negara tanpa memandang keyakinan agamanya. Didirikan berdasarkan Akta No. 03 tanggal 22 Februari 2010 dan diperbaharui di dalam Akta No. 02 tanggal 16 April 2010 yang dibuat dihadapan Notaris Rini Martini Dahliani, SH, di Jakarta, akta mana telah memperoleh persetujuan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-70.AH.01.06, tertanggal 25 Mei 2010 tentang Pengesahan Perkumpulan dan telah dimasukkan dalam tambahan berita negara No. 47 tanggal 14 April 2011.
Awalnya didirikan MES hanya untuk di Jakarta saja tanpa mempunyai rencana untuk mengembangkan ke daerah-daerah. Ternyata kegiatan yang dilaksanakan oleh MES memberikan ketertarikan bagi rekan-rekan di daerah untuk melaksanakan kegiatan serupa. Kemudian disepakati untuk mendirikan MES di daerah-daerah dengan ketentuan nama organisasi dengan menambah nama daerah di belakang kata MES. Organisasi MES yang didirikan di daerah tersebut berdiri masing-masing secara otonom.
Nama MES dan peran aktif yang semakin terasa menyebabkan permintaan izin untuk mendirikan MES di daerah lain semakin banyak. Jumlah organisasi MES daerah yang semakin banyak telah mendorong para pengurus MES daerah untuk mendesak Pengurus MES di Jakarta agar seluruh MES Daerah ini disatukan dalam satu organisasi bersama. Karena desakan semakin kuat, maka diselenggarakan Musyawarah Nasional Luar Biasa Masyarakat Ekonomi Syariah di Jakarta pada Mei 2006, tepatnya saat penyelenggaraan Indonesia Sharia Expo I. Dalam pertemuan tersebut, disepakati seluruh MES Daerah berhimpun dalam satu organisasi bersama yang bersifat Nasional dan MES di Jakarta ditetapkan sebagai Pengurus Pusat dan ditugaskan untuk menyusun perubahan AD/ART.
Dampaknya perkembangan ekonomi syariah di wilayah (tingkat provinsi) maupun daerah ( tingkat kabupaten/kota) semakin meluas dan terorganisasi dengan baik. Saat ini MES telah tersebar di 23 Provinsi, 35 Kabupaten/Kota dan 4 wilayah khusus di luar negeri yaitu Arab Saudi, United Kingdom, Malaysia dan Jerman. Kegiatan sosialisasi dan edukasi masyarakat tentang ekonomi syariah semakin memberikan dampak positif bagi masyarakat dan industri keuangan syariah tentunya.
Pada tanggal 3-4 November 2008 Masyarakat Ekonomi Syariah melaksanakan Musyawarah Nasional Pertama sebagai forum tertinggi organisasi. Diputuskan beberapa hal mengenai langkah MES ke depan, diantaranya disempurnakannya AD/ART MES, penetapan Garis-Garis Kebijakan Organisasi, Program Kerja Nasional, Rekomendasi dan pemilihan Ketua Umum Baru, yaitu Bapak Dr. Muliaman D. Hadad untuk periode kepengurusan 1429-1432 H. Beliau adalah ketua umum ketiga, dimana ketua umum pertama adalah Bapak Dr. Iwan Pontjowinoto dan ketua umum kedua adalah Bapak Dr. Aries Muftie.
Dalam periode kepengurusan tersebut, MES melakukan terobosan-terobosan baru diantaranya menerbitkan pedoman praktis pengelolaan bisnis syariah dalam bentuk buku dengan judul “Etika Bisnis Islam”, bersama Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) menyusun Pedoman Umum Good Governance Bisnis Syariah, bersama Kementrian Komunikasi dan Informatika menyediakan aplikasi Open Source untuk Koperasi Syariah dan Amil Zakat, bersama Kementrian Perumahan Rakyat memperkenalkan instrumen wakaf sebagai penyedia tanah untuk pembangunan Rumah Susun, bersama BI dan IAEI menyelenggarakan Forum Riset Perbankan Syariah dan penerbitan Jurnal Ilmiah Nasional “Islamic Finance Journal”, bersama Bursa Efek Indonesia menyelenggarakan Sekolah Pasar Modal Syariah dan masih banyak lagi lainnya.
Setiap program yang telah dilaksanakan harus di evaluasi agar memberikan hasil yang lebih baik lagi. Pada tanggal 21 Muharram 1432 H atau bertepatan dengan tanggal 17 Desember 2011 diselenggarakan kembali Musyawarah Nasional Kedua. Dalam pertemuan ini disepakati Roadmap Ekonomi Syariah Indonesia sebagai Garis Besar Kebijakan Organisasi, penajaman program kerja nasional serta menyempurnakan AD/ART sesuai dengan kebutuhan dan kondisi terkini. Bapak Dr. Muliaman D. Hadad kembali terpilih sebagai ketua umum untuk periode kedua.
3.      Prinsip ekonomi Islam
Ekonomi Islam didasarkan atas lima nilai universal, yakni: tauhid (keimanan), ‘adl (keadilan), nubuwwah (kenabian), khilafah (pemerintah), dan ma’ad (hasil). Kelima nilai ini menjadi dasar inspirasi untuk menyusun teori-teori ekonomi Islam.
Ekonomi Islam juga memiliki sifat dasar sebagai ekonomi Rabbani dan insane. Disebut ekonomi Rabbani karena sarat dengan arahan dan nilai-nilai Ilahiah. Dikatakan ekonomi Insani karena sistem ekonomi ini dilandaskan dan ditunjukan untuk kemakmuran manusia. Keimanan sangat penting dalam ekonomi Islam karena secara langsung akan mengaruhi cara pandang dalam membentuk kepribadian, prilaku, gaya hidup, selera, dan preferensi manusia.
Dalam ekonomi Islam, berbagai jenis sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan Allah kepada manusia. Islam mengakui kepemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu, termasuk kepemilikan alat produksi dan faktor produksi.
4.      Prospek ekonomi Islam di Indonesia
Sejak lahirnya bank tanpa bunga pada tahun 1991, yang mendahului lahirnya Undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan dan telah diubah dengan Undang-undang nomer 10 tahun 1998. “peluang untuk mensosialisasikan ekonomi Islam saat ini sangat besar, sepatutnya kondisi ini dapat mendorong dan memacu untuk memperkenalkan rancangan ekonomi Islam yang dibuat ahli ekonomi Islam tentang bagaimana sepatutnya ekonomi Islam di Indonesaia itu berjalan.
Ada sejumlah alasan mengapa institusi keuangan konvensional yang ada sekarang ini mulai melirik sistem syariah, antara lain pasar yang potensial karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan kesadaran mereka untuk berperilaku bisnis secara Islami. Potensi ini menjadi modal bagi perkembangan ekonomi umat di masa datang. Selain itu, terbukti bahwa institusi ekonomi yang menerapkan prinsip syariah, mampu bertahan di tengah krisis ekonomi yang melanda Indonesia.
Di sektor perbankan saja misalnya, sampai tahun 2010 nanti jumlah kantor cabang bank-bank syariah diperkirakan akan mencapai 586 cabang. Prospek perbankan syariah di masa depan diperkirakan juga akan semakin cerah. Hal itu diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia, Burhadin Abdullah di sela-sela acara dialog ekonomi syariah di Jakarta pekan lalu. Burhanudin mengatakan bank-bank yang ada sekarang bisa memanfaatkan kebijakan dihilangkannya Batas Minimum Penyaluran Kredit (BMPK) untuk melakukan penyertaan pada bank lain.”Ini satu kesempatan bagi bank untuk membuka unit-unit syariah. Misalnya bank A yang merupakan bank konvensional, dia bisa melakukan penyertaan di bank syariah tanpa dibatasi oleh BMPK. Di masa lalu batasnya 10 persen, sekarang tidak ada lagi,” jelas Burhanudin.
Selain perbankan, sektor ekonomi syariah lainnya yang juga mulai berkembang adalah asuransi syariah. Prinsip asuransi syariah pada intinya adalah kejelasan dana, tidak mengadung judi dan riba atau bunga. Sama halnya dengan perbankan syariah, melihat potensi umat Islam yang ada di Indonesia, prospek asuransi syariah sangat menjanjikan. Dalam sepuluh tahun ke depan diperkirakan Indonesia bisa menjadi negara yang pasar asuransinya paling besar di dunia. Seorang CEO perusahaan asuransi syariah asal Malaysia, Syed Moheeb memperkirakan, tahun 2008 mendatang asuransi syariah bisa mencapai 10 persen market share asuransi konvensional.
Data dari Asosiasi Asuransi Syariah di Indonesia menyebutkan, tingkat pertumbuhan ekonomi syariah selama 5 tahun terakhir mencapai 40 persen, sementara asuransi konvensional hanya 22,7 persen. Perbankan dan asuransi, hanya salah satu dari industri keuangan syariah yang kini sedang berkembang pesat. Pada akhirnya, sistem ekonomi syariah akan membawa dampak lahirnya pelaku-pelaku bisnis yang bukan hanya berjiwa wirausaha tapi juga berperilaku Islami, bersikap jujur, menetapkan upah yang adil dan menjaga keharmonisan hubungan antara atasan dan bawahan.
Bisa dibayangkan kesejahteraan yang bisa dinikmati umat jika penerapan ekonomi syariah ini sudah mencakup segala aktivitas ekonomi di Indonesia. Peluang penerapan ekonomi syariah masih terbuka luas. Persoalannya sekarang, mampukah kita memanfaatkan peluang yang terbuka lebar itu.
Ketentuan-ketentuan  yang  dipegang  dalam  menjalankan  prekonomian  syari’ah  di  Indonesia, didasarkan  pada  fatwa  DSN  ,  ini  sudah  banyak  diadopsi  menjadi  Peraturan  Bank  Indonesia (PBI).  Dan  Ekonomi  Syari’ah  di  Indonesia,  berkembang  sangat  cepat,  terutama  dibidang-bidang perbankan  Syari’ah.  Kegiatan  berupa  bisnis  Syari’ah  sudah  bermunculan  dimana-  mana, seperti hotel syari’ah, kolam renang syari’ah,  bengkel syari’ah,  karaoke syari’ah, supermarket syari’ah dan lain- lain.
Ekonomi  Islam  atau  Ekonomi  Syari’ah,  dalam  perkembanganya  telah  banyak  memberikan kontribusi kepada perkembangan ekonomi dunia. Banyak konsep-konsep Ekonomi Syari’ah ditiru oleh Barat diantaranya tentang Syirkah (lost profit sharing), Suftaja (bills of exchange), hiwalah (letters of Credit), funduq (specialized large s cale commercial institutions  and market wich developed in  to virtual stock exchange) yakni lembaga bisnis  khusus yang memiliki skala yang besar dan pasar yang dikembangkan dalam  pertukaran stok  yang nyata. Demikian juga tentang  harga  pasar  yang  menurut  sistem  ekonomi  kapitalis  tidak  boleh  ditetapkan  oleh pemerintah  atau  dicampuri  oleh  pihak-pihak  tertentu.
Ekonomi  Syari’ah  nampaknya  masih  terus  dalam  proses  membentuk  diri  secara  mandiri sebagai disiplin  ilmu.  Meskipun demikian ia telah  berhasil melahirkan sistem  operasi lembaga ekonomi  modern  seperti  bank  dan  asuransi.  Dalam  praktek,  sistem  operasional  Bank  dan asuransi  Islam  dapat  bersaing  dengan  lembaga  yang  serupa  menurut  sistem  konv ensional.
Hal  ini dapat dilihat  dari gagasan  Ekonomi  Syari’ah yang dikembangkan  saat  ini mempunyai dampak  langsung  kepada  masyarakat,  terutama    masyarakat  muslim sehingga  dapat meningkatkan  taraf  hidupnya  dalam  menghilangkan  persoalan  keterbelakangan  yang  terjadi pada  masyarakat.  Ekonomi  Syari’ah  diharapkan  dapat  menciptakan tata dunia  baru  yang  adil dan  tidak  bersifat hegemonistik Juga  dapat  membuat  sistem  distribusi  kekayaan  dan pendapatan yang adil dan merata pada setiap tingkatan.
E.     Kesimpulan
Pembahasan makalah kali ini membahas tentang prospek ekonomi syari’ah di Indonesia. Dalam makah ini kami selaku penyusun tidak hanya mengangkat satu sub judul saja tapi kami juga membahas, pengertian ekonomi Islam, prinsip ekonomi Islam, sejarah ekonomi Islam, dan yang menjadi judul inti  yaitu prospek ekonomi syari’ah di Indonesia. Dapat kami simpulakan sebagai berikut:
1.      Pengertian ekonomi Islam yaitu ilmu yang membahas prilaku manusia yang berlandaskan pada sistem syari’ah atau berdsarkan syariat Islam yang mengacu pada al-Qur’an dan Hadis
2.      Sejarah ekonomi Islam, bukan hanya di mulai pada abad 19 tetapi ekonomi Islam lahir pada permulaan adanya manusia di muka bumi, hanya saja pada permulaanya ekonomi Islam tidaklah tersusun secara rapi.  
3.      Dari prinsipnya ekonomi Islam berprinsip dasar pada tauhid (keimanan), ‘adl (keadilan), nubuwwah (kenabian), khilafah (pemerintah), dan ma’ad (hasil)
4.      Di lihat dari prospeknya ekonomi syri’ah bisa menjadi acuan utama dan menjadi tonggak ekonomi dunia. Di Indonesia prospek ekonomi syari’ah akan begitu pesat dengan adanya undang-undang dan peraturan pemerintah yang mendukung perkembangannya ekonomi syari’ah.

Daftar Pustaka
Abdul Husain,A, 2003. Ekonomi Islam prinsip dasar dan tujuan. Yogyakarta: Magistra Insania Press.
Akhmad Mujahidin, 2007, “Ekonomi Islam”, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Juhaya S.Pradja, 2012. “ Ekonomi Syari’ah. Bandung: pustaka setia.
M.Abdul Mannan, 1997, Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa.
Mustafa Edwin Nasution, 2006. “Pengenalan Eksklusif: Ekonomi Islam” Jakarta: Kencana
Rivai Veizhal;Andi Buchari, “Islamic Ekonomics, Ekonomi Syari’ah Bukan Opsi Tapi Solusi”, Jakarta: PT Bumi Aksara
http://yananto.wordpress.com/2008/09/07/prospek-ekonomi-syariah-cerah-umat-sejahtera



[1] Mustafa Edwin Nasution, 2006. “Pengenalan Eksklusif: Ekonomi Islam” Jakarta: Kencana