Rabu, 14 Januari 2015

KESIAPAN MAHASISWA MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015 DALAM PERSPEKTIF ISLAMIC LEADERSHIP



A.    Latar Belakang Masalah
Pada Desember tahun ini pasar bebas kawasan Asia Tenggara akan  di buka, kerjasama ini bertujuan agar terciptanya aliran bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih, serta aliran investasi yang lebih bebas, khususnya negara-negara yang tergabung dalam ASEAN. Indonesia merupakan anggota dari organisasi geo-politik tersebut. Sebagai salah satu anggota maka Indonesia berkewajiban untuk mentaati semua kebijakan yang telah disepakati yaitu untuk membebaskan semua aliran barang, jasa, dan tenaga kerja.
Sebagai negara yang telah bergabung dalam MEA, maka wajib bagi negara untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia yang memadai serta berani bersaing di pasar bebas ASEAN 2015. Dalam hal ini maka di butuhkan sumber daya manusia yang handal dan bisa bersaing dengan negara-negara ASEAN.
ASEAN merupakan sebuah organisasi geo-poitik dan ekonomi dari kawasan Asia Tenggara yang didirikan pada 8 Agustus 1967 di Bangkok Thailand. Di dirikan oleh beberapa negara Asia Tenggara di antaranya yaitu: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Di dirikannya ASEAN ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggota, serta memajukan perdamaian di tingkat regional/kawasan.[1]
Dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi MEA/pasar bebas kawasan Asia Tenggara maka kita memerlukan leadership/kepemimpinan yang bisa mengantarkan yang di pimpin menjadi sumber daya yang mempunyai kesiapan dan berani berkompetinsi dengan yang lainnya. Dalam pandangan kepemimpinan Islam (Islamic Leadership) tidak akan lepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’ān dan as-Sunnah, semuanya harus mengikuti apa yang telah termaktub baik itu tersurat maupun tersirat, dari sinilah kiranya dapat di cari bagaimana kesiapan mahasiswa menghadapi MEA dalam perspektif Islamic Leadership.    
B.     Pokok Masalah
Dari uraian latar belakang di atas maka kiranya pemakalah dapat merumuskan beberapa pokok masalah yang berkaitan dengan makalah ini di antaranya yaitu:
1.      Apa yang di maksud dengan MEA (Masyarakat ekonomi asean)?
2.      Bagaimana cara Mahasiswa dalam menghadapi MEA perspektif Islamic Leadership?

C.    Pembahasan
1.      Masyarakat Ekonomi Asean 2015 / Asean Ekonomic Community
Sebelum diuraikan tentang MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) makaa hendaknya terlebih dahulu di uaraikan tentang ASEAN (Association Of Southeast Asian Nations). Di awal pembentukannya pada 1967, ASEAN lebih ditujukan pada kerjasama yang berorientasi politik guna mencapai kedamaian dan keamanan di kaewasan Asia Tenggara. Dimulai dari lima negara pendiri.[2]  ASEAN merupakan sebuah organisasi geo-poitik dan ekonomi dari kawasan Asia Tenggara yang didirikan pada 8 Agustus 1967 di Bangkok Thailand. Di dirikan oleh beberapa negara Asia Tenggara di antaranya yaitu: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Di dirikannya ASEAN, bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggota, serta memajukan perdamaian di tingkat regional/kawasan.[3]
Selang beberapa tahun barulah negara-negara yang ada dikawasan Asia Tenggara mulai bergabung diantaranya yaitu 7 januari 1984 Brunei Darussalam, vietnam 28 Juli 1995, Laos 23 1997, Myanmar 23 Juli 1997, Kamboja 16 Desember 1998, dan sampai saat ini, anggota ASEAN hampir semua Negara di Asia Tenggara.[4]
Dengan berjalannya waktu dan dalam rangka menghadapi berbagai tantangan kerjasama regional termasuk krisis ekonomi di tahun 1997 para pemimpin negara ASEAN kembali memformulasikan “ASEAN vision 2020” di Kuala Lumpur pada 15 Desember 1997 yang menjadi tujuan jangka panjang ASEAN yaitu: “as a concert of Southeast Asian Nations outward looking, living in peace, stability and prosperity, bonded together in paartnership in dnamic devlopment and in a commnity of caring societies. Rencana jangka panjang pembentukan komunitas ASEAN itu terdiri dari tiga pilar yaitu ASEAN Economic Community (AEC atau Masyarakat Ekonomi ASEAN-ME), ASEAN Security Community (ASC), dan ASEAN Socio-cultural Community (ASCC).[5]
Dari sisi kerja sama ekonomi, visi tersebut diwujudkan melalui strategi pengembangan ekonomi yang sejalan dengan bangsa, dengan tujuan utama mencapai pertumbuhan ekonomi berkesinambungan dan merata, serta mendukung ketahanan negara anggota maupun kawasan.[6]
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) merupakan konsep yang mulai digunakan dalam Declaration of ASEAN Concord II (Bali Concord II), Bali, Oktober 2003. MEA adalah salah satu pilar perwujudan ASEAN Vision, bersama-sama dengan ASEAN Economic Community (AEC atau Masyarakat Ekonomi ASEAN-ME), ASEAN Security Community (ASC), dan ASEAN Socio-cultural Community (ASCC). MEA adalah tujuan akhir ekonomi seperti di canangkan dalam ASEAN Vision 2020. Langakah untuk memperkuat kerangka kerja MEA bergulir di 2006 antara lain dengan formulasi blue Print atau cetak biru yang berisi target dan waktu penyampain MEA dengan jelas. Mempertimbangkan keuntungan dan kepentingan ASEAN untuk menghadapi daya  saing global diputuskan untuk mempercepat pembentukan MEA dari 2020 menjadi 2015 (12 ASEAN Summit, Januari 2007).[7]
Melalui cetak biru (blue print) MEA, ASEAN telah melakukan berbagai pembangunan antara lain: pembangunan fasilitas perdagangan pada sektor informasi, teknologi, dan transportasi, pengimplementasisan ASEAN Single Window di masing-masing negara, harmonisasi kebijakan seperti adanya standar atau sertifikasi produk buatan ASEAN dengan MRA (Mutual Recognition Arrangement).[8]
Ada 4 pilar terpenting untuk mewujudkan MEA 2015, 4 pilar tersebut yang telah disepakati oleh Para Pemimpin ASEAN adalah sebagai berikut:
1.      Pasar tunggal dan basis produksi
2.      Kawasan ekonomi berdaya saing tinggi
3.      Kawasan dengan pembangunan ekonomi yang setara dan
4.      Kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi global.[9]
Pencapaian MEA melalui penciptaan pasar tunggal dan kesatuan basis produksi, ditunjukan sebagai upaya perluasan melalui integrasi regional untuk mencapai skala ekonomis yang optimal. Langkah-langkah integrasi tersebut (proses liberalisasi dan penguatan internal ASEAN) menjadi strategi mencapai daya saing yang tangguh dan di sisi lain akan berkontribusi positif bagi masyarakat ASEAN secara keseluruhan maupun individual negara anggota. Pembentukan MEA juga menjadikan posisi ASEAN semakin kuat dalam menghadapi negoisasi internasional.[10]
Sebagai pasar tunggal dan basis produksi ASEAN memiliki 5 elemen utama yaitu:
a.      Aliran bebas barang
b.      Aliran bebas jasa
c.       Aliran bebas investasi
d.     Aliran modal yang lebih bebas
e.      Aliran bebas tenaga kerja terampil.
Untuk mewujudkan kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi maka di perlukan beberapa elemen penunjang untuk mencapai itu semua, elemen-elemen tersebut yaitu:
a.      Kebijakan persaingan usaha,
b.      Perlindungan konsumen
c.       Hak atas kekayaan intelektual,
d.     Pembangunan infrastruktur,
e.      Perpajakan dan
f.        E-commerce.
Tujuan utama persaingan usaha adalah memperkuat persaingan yang sehat sehingga dalam melakukan usaha akan menjaga mutu dan kualitas produk yang di pasarkan. Dan dalam mewujudkan persaingan usaha yang sehat, instusi dan perundang-undangan yang terkait dengan kebijakan persaingan usaha telah terbentuk dibeberapa negara ASEAN, yaitu Indonesia, Singapura, Thailand, dan Viet-Nam.[11]
Untuk mewujudkan kawasan dengan pembangunan ekonomi yang setara maka di perlukan pembangunan UKM dan prakrasa bagi intergrasi ASEAN dalam mewujudkan kesamarataan ekonominya.
Yang di perlukan dalam integrasi penuh dengan ekonomi global adalah dengan pendekataan koheren terhadap hubungan ekonomi eksternal, prastisipasi yang erus meningkat dalam jaminan suplai global. Itulah kiranya 4 pilar terpenting yang telah disepakati oleh pemimpin ASEAN dalam menjalankan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015).

2.      Kesiapan Mahasiswa dalam menghadapi MEA perspektif Islamic Leadership
Dalam menghadapi MEA maka di butuhkan sumber daya manusia yang terampil juga terdidik, karena sumber daya manusisa merupakan faktor produksi yang sangat penting. Sumber daya manusisa adalah penduduk yang siap mau dan mampu memberi sumbangan terhadap usaha pencapaian tujuan organisasi.  Mahasiswa merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan harus mempunyai kelebihan dari pada yang lainnya.[12]
Dari sebuah data jumlah mahasiswa Indonesia saat ini 4,8 juta orang, dan jika dihitung terhadap populasi penduduk berusisa 19-24 tahun, maka angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi yaitu 18,4 %, berarti ada lebih dari 81,6% anak usia 19-24 tahun tidak mengalami kesempatan untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi/kuliah.[13]
Mahasiswa sudah seharusnya dapat berperan dan menjadi garda dalam pembangunan bangsa. Peran mahasiswa dalam pembangunan bangsa yaitu :
Pertama sebagai kontrol sosial, mahasiswa dapat menjadi kontrol bagi berjalannya pemerintahan. Baik dalam pembuatan kebijakan maupun peraturan yang dilakukan oleh pemerintah. Mahasiswa juga bisa sebagai penyalur aspirasi masyarakat kepada pemerintah.
Kedua sebagai bagian dari perubahan, sebagai kaum intelektual peranan mahasiswa sangat dibutuhkan dan penting dalam perubahan bangsa. Mahasiswa dapat merealisasikan teori yang di pelajarinya di kampus, terhadap masalah yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa juga harus berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat dan memberikan solusi. Selain itu mahasiswa sebagai kaum intelektual adalah generasi penerus bangsa untuk meneruskan dan menggantikan generasi sebelumnya untuk melakukan perubahan bangsa ke arah yang lebih baik dan maju.
Ketiga sebagai iron stock, yaitu mahasiswa sebagai penerus atau aset cadangan bangsa untuk melakukan perubahan. Selain itu mahasiswa adalah harapan bangsa untuk meneruskan perjuangan di masa depan.[14]
ASEAN Community menuntut sumber daya manusia untuk siap bertarung dengan SDM negara ASEAN lainnya, pertarungan ini hanya bisa menang dan dimenangkan oleh mereka yang mengenyam pendidikan lebih lama dan lebih tinggi serta berkualitas. MEA memberi  kesempatan seluas-luasnya bagi warga negara ASEAN untuk mendapatkan pekerjaan tanpa adanya hambatan di negara yang dituju, akan tetapi AEC blue print membatasi hanya tenaga kerja yang terampil.

Perspektif Islamic leadership
Tanggung jawab manusia merupakan sebagian dari sunnatullah atau ketentuan Allah. Karena kadar dan keinginan manusisa itu berbeda maka pada setiap kelompok dan kurun Allah menurunkan seorang yang dapat membimbing yang biasa di sebut pemimpin. Karena semua manusia adalah pemimpin.[15]
Islamic leadership kepemimpinan Islam berpijak pada landasan yang sangat kuat dan kokoh yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, menurut Al Farabi pemimpin di ibaratkan seperti hati yang ada pada diri manusia dan menjadi penentu dalam segala aktifitasnya. Berbeda dengan Al Farabi, Al Aqqad memaknai pemimpin sebagai orang yang memimpin manusia di dalam menegakan hukum syarak.Pada prinsipnya Islamic leadership bertumpu pada nilai-niilai yang terdapat pada pedoman utama umat Islam yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. 
Dalam menghadapi MEA maka kita sebagai calon pemimpin harus mengetahui cara untuk menghadapi pasar global dasar bebas dengan cara pandang kepemimpinan Islam.

D.    kesimpulan
Dari urain yang telah pemakalah sampaikan maka kiranya pemakalah akan memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1.      dalam menghadapi MEA 2015 maka kita harus benar-benar mempersiapkan ketrampilan dan inofasi baru dalam bidang usaha, menghadapi MEA tak perlu khawatir tetapi anggaplah ini sebagai tantangan utuk kita semua dalam menghadapi pasar bebas dan persaingan global.
2.      Di lihat dari sudut pandang/perspektif kepemimpinan Islam maka cara menghadapi MEA ini harus dengan penuh tanggung jawab dan dilandasi dengan nilai-nilai yang terdapat dal al-Qur’an dan as-Sunnah.

Daftar Pustaka
Ali Muhammad Taufiq, 2004, Praktik Manajemen Berbasis Al-Qur’an, cet 1, Gema Insani Press, Jakarta
Didik Ahmad Supadie, 06 desember 2014Peran Dan Kesiapan Mahasiswa Menghadapi Mea 2015, seminar BEM FAI UNISSULA,

Didiek Ahmad Supadie,2011, Pengelolaan Sumber Daya Ekonomi Secara Islami, cet pertama, Unissula Press, Semarang,

R. Winantyo dkk, 2008,Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 Memperkuat Sinergi  ASEAN di tengah kompetisi global, PT Elex Media Komputindo, Jakarta

Vaitzhal Riva’i dkk, 2009, Ekonomi Syari’ah, Konsep, Praktek dan Penguatan Kelembagaannya, Pustaka Rizki Putra, Semarang

id.wikipedia.org, di akses pada pukul 22:45 hari Rabu

www.academia.edu, di akses pada hari jum’at  9 januari 2015, pukul 13:39


[1] Didik Ahmad Supadie, Peran Dan Kesiapan Mahasiswa Menghadapi Mea 2015, seminar BEM FAI UNISSULA, 06 desember 2014
[2] R. Winantyo dkk, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 Memperkuat Sinergi  ASEAN di tengah kompetisi global, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2008, hlm. 1
[3] id.wikipedia.org, di akses pada pukul 22:45 hari Rabu

[4] Didik Ahmad Supadie, Op, Cit

[5] R. Winantyo dkk, Op, Cit, hlm. 2
[6] Ibid, hlm 3

[7] Ibid, hlm 9

[8] Didiek Ahmad Supadie, Op, Cit
[9] Ibid

[10] R. Winantyo dkk, Op, Cit, hlm.9
[11] Didiek Ahmad Supadie, Op, Cit
[12] Didiek Ahmad Supadie, Pengelolaan Sumber Daya Ekonomi Secara Islami, cet pertama, Unissula Press, Semarang, 2011, hlm.28

[13] Didiek Ahmad Supadie, loc, cit

[14] www.academia.edu, di akses pada hari jum’at  9 januari 2015, pukul 13:39
[15] Ali Muhammad Taufiq, Praktik Manajemen Berbasis Al-Qur’an, cet 1, Gema Insani Press, Jakarta, 2004, hlm,35

Kamis, 26 Juni 2014

MANAGEMEN MALU DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT DAN BERNEGARA

Melihat fenomena yang ada di Negara kita sekarang  ini sangat menyayat hati, perbuatan keji ada di mana-mana, setiap hari di media baik cetak maupun elektronik menampilkan perbuatan keji yang seakan-akan tiada henti melanda negri. Mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas mereka melakukan perbuatan keji dengan cara meraka masing-masing. Lihat berita yang sedang terjadi akhir-akhir ini, korupsi telah menjangkit kalangan atas, seperti halnya lembaga Negara mulai dari Legislatif, Eksekutif, dan Judikatif, ketiganya  telah mempunyai wakil-wakilnya yang terkena kasus korupsi. Ya korupsi sekarang ini menjadi berita yang paling popular, seakan tak ada henti para pemakai dasi (koruptor) yang memakan uang rakyat sendiri. Mereka (para koruptor) sudah tidak mempunyai lagi rasa malu, baik itu malu pada diri sendiri maupun pada orang lain.  
Selain para pemakai dasi perbuatan keji juga diaktori oleh kalangan  bawah, yaitu dengan melakukan perbuatan yang melanggar syari’at dan hukum Negara. Banyak kasus yang menjerat kalangan bawah, mulai dari perampokan, pembunuhan, dan kasus-kasus melawan hukum lainnya. Semuanya itu mereka lakukan dengan tanpa ada pembelajaran dan kejeraan bagi yang lain, sudah menjadi bahasan umum dan itu yang menyedihkan bahwa mereka menganggap lembaga pemasyarakatan itu bukan lembaga untuk membuat jera bagi pelaku pelanggar hukum melainkan menjadi lembaga kursus gratis bagi pelaku pemula, sebelum masuk penjara hanya bisa mencuri kambing tapi setelah masuk di penjara mereka mencuri mobil. perbuatan melawan hukum terus ada dan terus berkembang. Sehingga lembaga pemasyarakatan telah kewalahan menampung para pelanggar hukum.
Pertanyaan yang timbul dalam benak kita, kenapa terjadi seperti itu?. Kalau kita telusuri faktor kenapa semakain banyak pelaku melawan hukum, maka kita akan menemukan beberapa faktor yang melatar belakangi terjadinya pelanggaran melawan hukum diantaranya yaitu: pertama dari segi moral rakyat Indonesia yang semakin terkikis habis, kedua dari segi ekonomi juga bisa menjadi faktornya, ketiga dari segi hukum yang diterapkan di Indonesia, maksudnya dari segi hukum itu sendiri hukum di Indonesia itu belum menjerakan para pelaku pelawan hukum dan sebagainya.
Di tulisan ini kami akan membahas salah satu faktor tersebut yaitu faktor pertama dari segi moral rakyat kita. Dari segi moral rakyat Indonesia yang dulu terkenal dengan Negara yang mempunyai moral tinggi sekarang menjadi sebaliknya, mengapa itu bisa terjadi, karena masyarakat kita telah kehilangan salah satu moral yang mendasar yaitu malu. Kenapa kami mengatakan begitu coba kita ambil contoh dari para koruptor mereka sudah nyata-nyata menjadi tersangka tapi masih bisa tertawa, tersenyum dan melambaikan tangan kekamera itu contoh kecil yang bisa kita amati. Betapa rasa malu mereka sudah dikubur dalam-dalam dan dibuang jauh entah kemana. 
Malu dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan dengan “merasa hina atau rendah” sedangakan dalam bahasa Arab yaitu “khaya”. Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna. Al-Junaid rahimahullâh berkata, “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.”
Perhatikan sabda Nabi, dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.”
 Dalam ushul fiqh kata “jika engkau tidak malu berbuatlah sesukamu” merupakan amar yang berfaidah litahdid (ancaman) maksud sabda nabi itu tidaklah dibenarkan untuk orang tidak mempunyai rasa malu. Perintah ini merupakan larangan untuk tidak meninggalkan rasa malu, karena dengan meninggalkan malu maka orang akan berbuat semaunya dan tidak ada batasan dalam hal moral. Karena dengan hilangnya rasa malu juga orang akan mudah terjerumus kejurang maksiat dan pelanggaran baik itu melanggar syari’at maupun hukum Negara, mengapa demikian karena sudah tidak mempunyai tameng yang kokoh untuk melindungi diri sendiri.
 Dari sabda beliau tersebut maka kita bisa mengkorelasikan dengan masyarakat kita khususnya para pelanggar hukum. Sabda Nabi menunjukan betapa pentingnya “malu”, ya karena dengan malu maka tidak mungkin masyarakat akan melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Coba saja kalau masyarakat kita masih malu pasti akan berfikir untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak di benarkan syari’at dan hukum Negara. Kalau masyarakat mempunyai rasa malu maka akan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya. Maka jika masyarakt kita masih mempunyai rasa malu, Negara kita akan menjadi Negara yang aman tentram dan sejahtera.
            Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dibutuhkan moral yang baik dibutuhkan rasa malu yang utuh. Dapat kita ambil contoh dari masyarakat yang mempunyai rasa malu, misalkan saja masyarakat kita yang akan melanggar hukum atau aturan yang telah ditetapkan maka mereka akan mengatakan aku malu untuk melanggar hukum atau aturan ini. Jika masyarakat kita mempunyai rasa malu maka tidak ada  korupsi, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan sebagainya.
Selain untuk menjauhi hal-hal yang melanggar hukum, malu juga bisa mendekatkan kepada kebaikan dan keimanan kepada sang Khalik, karena malu merupakan salah satu cabang dari iman. seperti halnya sabda Nabi Muhammad
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.” HR.al-Bukhâri
Dari hadis ini dapat diambil ibrah, bahwasanya malu sangatlah mempunyai kedudukan yang amat penting dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. Karena dalam kehidupan beragama jika tidak mempunyai rasa malu maka akan menimbulkan sesuatu yang merugikan agama itu sendiri dan juga jika rasa malu tidak terdapat dalam bermasyarakat maka akan meresahkan masyarakat dan juga meresahkan Negara. Dari sinilah dapat kita pahami hadis ini sesuai dengan kebutuhan malu kita dan bagaimana kita menerapkan malu kita dalam beragama, bermasyarakat dan bernegara.
Dalam salah satu riwayat nabi pernah bersabda “Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan.” (Muttafaq ‘alaihi) dalam riwayat Muslim “Malu itu kebaikan seluruhnya.” Hadis ini menunjukan bahwa ketika kita masih memiliki rasa malu maka kita akan mendapatkan kebaikan baik berupa kebaikan di dunia maupun kebaikan di akhirat.
Tetapi jangan sekali-kali kalua kita akan melakukan perbuatan yang baik kita megatakan aku malu maka malu seperti inilah tidak dibenarkan. Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syar’i, malu mengaji, malu membaca Alqur-an, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang Muslim, malu untuk shalat berjama’ah di masjid bersama kaum muslimin, malu memakai busana Muslimah yang syar’i, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela karena akan menghalanginya memperoleh kebaikan yang sangat besar.
            Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Diantara berkah yang mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu berkah yang lain adalah selamat dari api Neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Karena, manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah dan saat berhubungan sosial dengan orang lain.  Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup.
Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Siapa yang hilang rasa malunya, pasti hilang pula kebahagiaannya; siapa yang hilang kebahagiaannya, pasti akan hina dan dibenci oleh manusia; siapa yang dibenci manusia pasti ia akan disakiti; siapa yang disakiti pasti akan bersedih; siapa yang bersedih pasti memikirkannya; siapa yang pikirannya tertimpa ujian, maka sebagian besar ucapannya menjadi dosa baginya dan tidak mendatangkan pahala. Tidak ada obat bagi orang yang tidak memiliki rasa malu; tidak ada rasa malu bagi orang yang tidak memiliki sifat setia; dan tidak ada kesetiaan bagi orang yang tidak memiliki kawan. Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya dan berucap apa saja yang disukainya.”

Dari urain tulisan ini kiranya kita semua bisa mengambil sedikit pelajaran tentang bagaimana seharusnya kita mengelola (memanag) rasa malu kita supaya dengan rasa malu yang kita miliki bisa membawa kita menjadi hamba-hamba yang lebih taat dan menjadikan kita warga Negara yang terhormat. Malu juga harus ditempatkan pada tempat yang tepat, maksud dari tempat yang tepat yaitu ketika kita melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela maka kita harus malu karena melakukannya. Dan jangan sekali-kali malu dalam hal kebaikan karena malu dalam melakukan kebaikan tidak akan mengutungkan melainkan membuat kerugian bagi  diri kita sendiri. Dan dari inilah apakah kita semua akan membiarkan rasa malu kita hilang? Ataukah kita masih menginginkan Negara kita menjadi Negara yang tak karuan seperti halnya sekarang? Mungkinkah kita masih akan terus malu dalam hal kebaikan? Hanya Allah lah yang tau